Memberdayakan Emosi

marah“Dan masalahnya adalah, jika kau tidak mengambil risiko apa pun, kau akan menanggung risiko yang lebih besar” (Erica Jong)

Mari kita awali bahasan kali ini dengan membaca satu skenario umum ini. Ada seorang cowok sedang gandrung pada seorang cewek. Selain parasnya manis, cewek itu jadi teman curhat yang menyenangkan. Si cowok ingin sekali nembak dan menjadikan cewek itu pacarnya.

Akan tetapi, ketakutan ditolak membuat dia selalu mengurungkan niatnya itu. Akhirnya, tanpa sepatah kata ‘cinta’ keluar dari mulut si cowok, cewek itu pun dilamar oleh orang lain. Dengan hati miris, dia pun menghadiri pernikahan sang cewek. Dia membayangkan betapa indahnya bisa hidup berdampingan dengan cewek pujaan hatinya. Akan tetapi, semua sudah terlambat.

Apakah skenario tersebut kedengaran masuk akal untuk Anda? Mungkin Anda bukanlah si cowok ini. Namun, dalam banyak aspek kehidupan, kita berperilaku mirip seperti si cowok tersebut. Bagaimana miripnya? Coba perhatikan.

Kita mulai dengan suatu goal. Kita pun membayangkan betapa menyenangkan seandainya goal dan impian itu bisa kita peroleh. Namun, pada saat yang sama, ada keraguan. Di sinilah, perasaan takut muncul seandainya apa yang diharapkan tidak terjadi. Di sini pula, muncul keengganan untuk melakukan sesuatu karena takut dengan konsekuensi buruknya. Demikianlah, akibat ketakutan akan akibatnya, tidak ada satu pun yang dilakukan. Itu dianggapnya sebagai langkah paling aman dan nol risiko. Namun, tidak ada satu pun yang dicapainya.

Hal yang sama terjadi pada banyak aspek kehidupan kita. Contohnya fenomena diet. Saat ingin diet, orang memutuskan untuk menurunkan berat badannya. Namun, goal menurunkan berat badan saja belum cukup. Pada dasarnya, ada unsur pain (sakit) dari upaya menurunkan berat badan ini.

Orang itu harus rela puasa atau pantang makan makanan enak yang selama ini ia nikmati. Harus berani menanggung lapar dan mengekang nafsu. Tentu saja, semua rasa sakit ini dirasakan jauh lebih besar. Lagipula, belum tentu diet program seperti itu akan berhasil. Lantaran pikiran orang terbelenggu oleh ketakutan tidak berhasil, orang itu akhirnya tidak melakukan diet.

Hal serupa juga terjadi pada orang yang ingin belajar bahasa Inggris ataupun mereka yang ingin sekali menulis buku. Karena takut pada penolakan oleh penerbit, bukunya tidak laku, tulisannya jelek, buku itu pun masih menggantung di batok kepala orang itu alias tidak pernah kesampaian. Termasuk juga mereka yang ingin memulai bisnis. Semua bisa dijelaskan dari rasa pain dan pleasure ini.

Kelola pain & pleasure

Pembaca, di sinilah, kita melihat bagaimana dua unsur emosi, yakni rasa sakit (pain) serta rasa senang (pleasure) berperan dalam tindakan kita. Sejak dulu, seorang pakar psikologi kondang dari Austria, Sigmund Freud, mengatakan tentang kedua sifat ini pada diri setiap orang. Dalam teori-teorinya yang terakhir, Sigmund Freud mulai banyak membahas kedua motif emosional ini sebagai pembentuk perilaku manusia. Intinya, motivasi perilaku manusia banyak didorong oleh kedua motif ini. Kalau tidak percaya, cobalah lihat setiap perilaku atau tindakan Anda. Kalau tidak untuk mendapatkan suatu rasa senang atau pun nyaman (pleasure), pastilah untuk menghindari suatu rasa sakit dan ketidaknyamanan (pain).

Kedua emosi ini berpengaruh besar pada setiap aspek tindakan ataupun pilihan hidup kita. Coba pikirkan, mengapa Anda melakukan pekerjaan sekarang? Mengapa memilih pasangan hidup tertentu? Semuanya, pasti terkait dengan alasan pain dan pleasure yang Anda pertimbangkan.

Pada kenyataannya, kedua emosi ini merupakan driving force (pendorong utama) dari perilaku yang kita kerjakan. Prinsip motivasi hidup manusia mengatakan bahwa pada dasarnya, manusia akan menghindari pain dan mencari pleasure. Semakin besar pain, semakin besar kekuatan kita untuk mengindarinya. Begitu pula semakin besar rasa pleasure, semakin kita akan mendekatinya.

Kalau kita bisa mengaitkan dengan apa pun yang kita lakukan, kita akan melihat alasan yang bisa memberikan energi yang luar biasa dalam hidup kita. Bahkan, saya mengingat ketika ada seorang pemenang touch the car memenangkan rekor lomba menyentuh mobil paling lama, berhari-hari tidak tidur, tetapi orang ini sanggup melakukannya.

Dia pun ditanya wartawan, apa tipsnya. Mau tahu jawabannya, “Sementara saya melihat satu demi satu orang meninggalkan ruang lomba karena merasa capai, sakit, dan menderita. Yang saya lakukan hanyalah bayangan bagaimana mobil yang saya pegang ini menjadi milik saya. Itulah yang memberi saya inspirasi dan kekuatan”. Tanpa sadar, si orang ini telah menggunakan unsur pleasure dari energi emosinya dengan baik.

Saya punya salah satu contoh kisah nyata dari salah seorang pengusaha real estate terkenal dan broker di Thailand yang pada masa krisis sempat mengalami kehancuran. Saking miskinnya, Sirivat Voravetvutikhun, si penguasaha ini, terpaksa jadi pedagang asongan dan jualan sandwich, alias roti lapis.

Akan tetapi, ada kata-kata yang menarik darinya, “Saya lahir sebagai orang miskin. Maka visi saya adalah menjadi orang sukses dan saya bekerja keras untuk berhasil. Dan terpenting, dalam masa krisis di Thailand ini, saya berusaha mengatasi rasa malu, gengsi, dan takut. Itulah musuh terbesar saya. Setiap hari bangun, saya membayangkan bahagianya saya ketika saya sukses dulu. Itu memberikan saya semangat luar biasa” Kita tidak tahu lagi nasibnya, tetapi yang jelas rasanya tidak dibutuhkan lama baginya untuk bangkit kembali.

Ada hal yang bisa kita petik. Untuk bisa bergerak, kita pun bisa memanfaatkan emosi pain dan pleasure secara positif.

Pertama, kaitkan goal kita dengan emosi yang menyenangkan dan bukan sebaliknya. Jadi, kaitkan hal-hal yang kita ingin lakukan justru dengan emosi-emosi yang menyenangkan. Bayangkan, bagaimana rasanya kalau kita bisa mencapai diet kita, apa yang menyenangkan yang akan kita peroleh. Apa jadinya kalau kita mulai bisa meningkatkan kemampuan bahasa Inggris kita.

Kedua, memperbesar rasa sakit seandainya Anda tidak melakukannya.

Advertisements

2 Responses to Memberdayakan Emosi

  1. Lea says:

    Hi Arya..
    Nice writing..
    good point.. dan hebatnya.. it rocks your world

    ada yang pernah bilang:
    lakukanlah hal-hal yg kita takut untuk melakukannya..
    dan teruslah melakukannya..
    itulah cara tercepat dan terpasti yang pernah ditemukan
    untuk mengatasi rasa takut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: