Mental buruk membanding-bandingkan

imagesSalah satu kebiasaan buruk masyarakat kita adalah penyakit membanding-bandingkan. Coba perhatikan saat orang sedang bergosip ria. Anda pasti akan mendengarkan orang yang doyan membangga-banggakan dan membanding-bandingkan satu sama lain. Selain itu, beberapa acara di TV juga kentara sekali memamerkan dan membanding-bandingkan satu selebritas dengan selebritas lainnya.

Memang tidak selamanya buruk. Semangat membandingkan dengan orang lain, membuat kita sadar bahwa ada orang yang lebih baik dan lebih berhasil daripada kita. Namun, sikap membanding-bandingkan punya akibat yang buruk bagi perkembangan mental apabila tidak diimbangi dengan mentalitas yang konstruktif.

Pertama, sikap membanding-bandingkan membuat kita seperti ‘minum dari air laut’. Jadi tidak pernah ada puas-puasnya, malahan kita semakin kehausan hingga akhirnya kita kelelahan sendiri.

Saya mengenal seorang pria yang selalu berkompetisi dengan kakak dan adiknya. Padahal, secara finansial hidupnya sebenarnya pas-pasan. Namun, demi menjaga gengsi di mata orang tua ataupun adik-adiknya, dia terus berusaha mengimbangi bahkan melebihi adik dan kakaknya secara material. Akhirnya, semua itu membawa dirinya menjadi berutang yang cukup banyak.

Kedua, sikap membanding-bandingkan membuat kita berada dalam sebuah herarki yang tidak ada putusnya. Saat Anda merasa iri dengan supervisor Anda, mungkin si supervisor Anda pun merasa iri dengan manajernya. Lalu si manajer iri dengan direkturnya. Si direktur ini pun iri dengan direktur yang lain. Demikianlah, semua ini tidak pernah ada putusnya.

Ketiga, mentalitas membanding-bandingkan membuat energi emosi kita lebih banyak dihabiskan untuk hal-hal yang justru negatif. Misalkan saja, melihat rekan ataupun teman Anda yang lebih berhasil, Anda pun jadi merasa iri, sebel, cemburu, dan marah. Reaksi semacam ini membuat kebanyakan orang justru terjebak dalam energi yang negatif, seperti berusaha mencari-cari kekurangan orang tersebut. Bahkan, ada yang berusaha mengalahkan dengan cara yang tidak pantas.

Bagaimanakah tipsnya agar kita tidak terjebak dalam sikap membanding-bandingkan yang negatif dan akhirnya justru membenamkan potensi diri kita sendiri?

Standar sendiri

Pertama, bangunlah standar Anda sendiri. Dalam pelatihan dan seminar, saya tidak bosan-bosannya mengatakan kalimat yang terinpsirasi dari kisah hidup banyak orang sukses, “Saya tidak membandingkan diri saya dengan orang lain. Namun, saya punya standar kesempurnaan yang saya kejar terus-menerus sepanjang saya masih punya napas”. Itulah semangat yang dikatakan Donald Trump ataupun Andy Groove, orang yang berjasa sekali membesarkan Intel.

Kedua, sadarilah saat Anda membanding-bandingkan diri dengan mereka, mereka pun membanding-bandingkan dengan Anda. Saya pernah mengalami pengalaman menarik tatkala masih pada awal karier saya sebagai pembicara dan penulis.

Saya sangat mengagumi seorang penulis dan pembicara yang sangat produktif. Suatu ketika, saat ketemu, dia pun ternyata mengatakan dia merasa iri dengan beberapa aspek pencapaian dalam kehidupan saya. Saya pun akhirnya sadar, ini bagian dari permainan kehidupan yang mesti kita sadari.

Kita akan selalu membanding-bandingkan. Kamu hebat di mana, kamu punya apa, dan seterusnya membentuk suatu daftar panjang yang tidak akan berhenti. Karena itulah, satu-satunya cara adalah tidak membanding-bandingkan dan tidak melihat orang lain dengan perasaan iri. Ingatlah, belajar dari kisah saya di atas, mungkin dia sendiri pun sedang melihat Anda saat ini dengan irinya.

Ketiga, setop membanding-bandingkan dan belajar untuk bersyukur dengan apa yang kita capai saat ini. Selama kita sadar bahwa kita telah berusaha secara maksimal dan inilah yang mampu kita capai, belajarlah bersyukur atas apa yang boleh kita nikmati.

Kita tidak perlu khawatir ataupun risau dengan apa yang mereka miliki. Sejauh kita tetap mengembangkan diri kita, tetap dengan rajin dan gigih mau berjuang, saya percaya kita akhirnya akan menikmati seperti yang orang lain nikmati. Namun, kita tidak boleh merasa iri. Memang, pada akhirnya setiap orang sudah punya path (jalannya) sendiri-sendiri.

Ada yang jalannya lebih cepat, ada yang lebih perlahan. Namun, kita tak perlu iri apalagi marah dengan ‘rumput tetangga yang tampaknya lebih hijau’. Belajar terima kondisi ‘rumput’ kita saat ini tetapi rajin-rajinlah merawat dan melihat serta mengembangkan kondisi rumput kita. Mungkin suatu ketika, rumput kita pun akhirnya akan sehijau rumput tetangga. Bahkan, mungkin lebih bagus.

Keempat, kalaupun ingin membanding-bandingkan, bandingkanlah dengan dirimu sendiri. Cobalah lihat apakah kehidupan Anda secara umum ada kemajuan dan perkembangan yang lebih baik? Secara spiritual, finansial, karier, emosional, mental (pengetahuan) atau hubungan sosial, bagaimana perkembangannya?

Hal ini akan lebih positif dan lebih baik untuk memotivasi Anda menjalani grafik yang semakin menanjak dalam kehidupan Anda. Di sisi lain, energi yang dipakai juga energi positif.

Akhirnya, kalaupun Anda masih terobsesi dengan orang lain, lihatlah bukan dengan kacamata perasaan iri, marah, ataupun sebel. Namun, dengan kacamata ingin tahu bagaimana caranya Anda bisa mencontoh apa yang mereka lakukan sehingga Anda pun bisa sesukses mereka-mereka ini. Dengan demikian, cara membandingkan Anda disertai dengan sikap dan emosi yang positif.

Advertisements

3 Responses to Mental buruk membanding-bandingkan

  1. […] leave a response Mental buruk membanding-bandingkan […]

  2. Anonymous says:

    just great…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: